Pernah ada masa2nya sok romantis gitu, belajar bikin puisi…cukup banyak siy yang jadi, meskipun bicara kualitas masih belum ada apa2nya..saat buka2+ngeliat2 file di komputer, eh ktemu lagi ma puisi2 lama..setelah dibaca2 lagi, rasanya aneh, malah tertawa..bisa2nya dulu buat puisi gak bermutu kayak gini..tapi dibuang sayang. mendingan ditampilin di blog aja deh..yah mari kita nikmatin bersama2, silahkan tertawa kalau memang ancur bgt..bebaskan ekspresimu…hehe..oya, satu hal lagi setelah dibaca2, ternyata banyak2 yg mirip deh..beginilah bermimpi jadi pujangga tanpa dukungan bakat..haha2
- Unreachable- (1)
Dia..
Kenapa harus dia..?
Dia yang tak mengerti cinta
Dia yang tak mampu menanti
Dia yang tak terkira memberi perih
Sadarkah dia..
Pahamkah dia..
Hadirnya kerap merayu mimpi
Tawanya kerap menggoda rindu
Meski sinis menatapnya
Terselip harap merajut rasa
Dia…
Selangkah dariku tapi tak terjangkau..
–Menanti— (2)
Tak beradu mata saling menatap
Tak tersentuh jemari saling membelai
Tak bertemu raga untuk bersama
Lalu kenapa?
Salahkah ku titipkan rasa di hatimu?
Salahkah ku semai cinta di sukmamu?
Mulutmu tlah berucap, hatimu tlah berkata.
Yakinkan ku untuk melangkah
Setiakah kamu?
Mampukah bertahan berteman sepi?
Mampukah menanti tanpaku di sisi?
Seribu tanya bergolak lirih
Jujurlah..jangan bermain rasa..
Ku tunggu kau merangkai janjimu
Ku tunggu kau mengukur cintamu
Ku tunggu kau menyelam sabarmu
Ku tunggu di gerbang itu
Teruslah melangkah
Atau lelah tak mampu meniti
Denganmu..atau tanpamu..
Tetap ku menyusuri mahligai cinta
Berharap restu ridho ilahi
–Nafsu– (3)
Lihat..
Aku tersenyum pada mata menggoda jiwa..
Bertatap beradu gejolak
Ahh..Rasa ini membuncah..
Membara panas menyeruak..
Ingin merasa..
Ingin mencoba
Saling tersenyum seolah saling mengerti
Memberi harap..
-Aku, Dia, dan Takdir- (4)
Sekelebat bayangannya muncul lagi di kepalaku.
Dia..ahh..
Bau khas parfumnya seolah menari di penciumanku…
Tak lekang senyum yang menghiasi sebanding tatapan penuh makna menghujamku..
Aku tau itu..aku tau apa yang ada di benaknya..
Namun tak pernah mampu kutebak segala tindakannya..
Dia mampu membuatku tersenyum penuh arti, dan sekejap itu pula dia merampas milikku..
Ah benarkah terlalu cepat?
Benarkah ‘waktu’ yang bersalah..?
Semua peran telah kumainkan..
Ya bahkan melawan takdirpun pernah kucoba..
Ahh..sekali lagi bayangan itu menusukku..
Indah, namun memberi sakit teramat dalam…
Siapa yang berperan..?
Sekali lagi Tuhan menunjukkan kuasaNya..
Berjuang berurai tangis seakan tak berarti melawan kehendakNya..
Bahkan ketika simbol status tak lagi mengikatnya..
Tetap tak mampu kuraih dirinya..
Seakan tertawa menyindir jalanku..
Benarkah Tuhan sekejam itu?
Tidak….bukan itu…
Nafsuku lah yang membara..
Memburu melintasi jalan yang bukan milikku…
Lihat mata itu..
Menatapnya kau lihat surga..
Lihat senyum itu..
Tersenyumlah, dan jiwa pun menari
Siapa mampu menepis..?
Lihatlah dan jangan berkedip..
Gemulai Lembut rasakan pesonanya
Jika kau bertanya, jika kau tergoda..
Jangan salahkan dia..
Kecantikan adalah namanya, keindahan adalah bayangnya..
Lalu siapa Cinta?
Dialah ruhnya..
Kabar baik bagiku..
Dia memilih menitipkan rasanya padaku..
Membawaku mensyukuri indahnya Nirwana
Jangan cemburu, percuma kau tunggu..
Dia dan aku..
Tak terpisah tak bercelah, menyatu dalam kalbu..
–Bintang- (6)
Bintang..
Sesaat menatapnya, dingin tanpa makna..
Kembali menatap..
Setelah waktu bermain pada jalannya..
Bintang tersenyum..
Menyentuh jiwa..
Tatapan itu menghangatkan kebekuan malam..
Aku rindu bintang..
Sekejap dia mencuri jiwaku..
Mungkinkah aku lahir kembali..?
Cinta membara memburu bintang..
Tak ingin lepas tanpa kepastian..
Ragu-ragu..cemas..sudikah hanya bersinar padaku..?
Waktu berputar meregang asa
Bintang kesepian..bintang merana..
Tak mampu lagi tersenyum
Setialah bintang..
Nantikan aku kembali menjadi bulan menerangimu..